Saturday, January 23, 2010

love cat





Sabtu sore dengan hujan rintik-rintik setelah sebelumnya hujan yag cukup deras mendera,,, tiba-tiba teringat kucing,,, ku buka web para pecinta kucing,,

hmmm jadi kangen sama kucing-kucing pecicilan yg sempat ku rawat beberapa lama dikosan, sebelum mereka tiba-tiba menghilang ato dihilangkan dari kosan, mengingat ada beberapa penghuni yang takut, sempat memaksakan dipelihara, tapi protes bertubi-tubi datang dan dengan terpaksa, ku relakan mereka menghilang dari pandangan,, huhuhu sedih,,,



Ku begitu suka dengan hewan itu ,,,kucing,,,,

Senang rasanya melihat mata bundar mereka, bulunya yang lembut, manjanya mereka ingin di elus, seolah kita begitu berarti buat mereka, *padahal biar di kasih makan, hehehe




Palagi, kalo ingat ada satu sahabat Rosul yang juga sangat sayang kucing, sehingga di juluki bapak kucing yaitu Abu Hurairah r.a, aku makin ingin memelihara kucing,,,



Suatu saat nanti, bila ku sudah punya rumah sendiri *biar ga ada yg protes,,, ku akan merawat satu atau dua ekor kucing,,,, hmmm smoga ga ada yang protes lagi,,,

Sunday, January 3, 2010

bidadari surga itu,,




bismillah,,,
akhirnya posting juga disini, setelah sekian lama ngendep ga nemu ide, ku buka blog ku ini, eh ternyata blog ku dah ada pengikut nya,, hahahaha senangnyaaaah my firts follower makasih yaaa, meskipun kau ternyata sohibku sendiri,lumayan daripada lumanyun,,,,

sebenernya ku mau ikut ngere-post note temen yang sungguh memberikan inspirasi buat kita, dan sangat layak di baca banyak orang, memberikan semangat menhadapi hidup, mengingat kembali hakikat hidup, dan meanmbah kecintaan kita pada Rabb semesta alam,,,
cerita berikut mengenai kisah seorang akhwat luar biasa,,,

Namanya "Aini". begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu "adik " terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya.

Seharusnya 28 Januari lalu genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya, banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan da'wah ini. Seorang muharrik da'wah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki husnuzh zhon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.

Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka 'Aini Allah taqdirkan harus terus meretas keshabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa sang ikhwan begitu "lemahnya" hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang? Atau ketika masalah fisik, suku, serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri, 'Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes "kenapa ikhwan sekarang seperti ini?"

Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya. Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya.



Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan singkat yang penuh makna "Alhamdulillah.. jazakillah ummi sudah membantu... mohon do'a agar diridhai Allah."

Alhamdulillah, Allah mudahkan proses ta'arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 10 tahun lebih muda dari usianya.

Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.

Namun, Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan..

Dua minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai 'Aini mengisi sebuah ta'lim, motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer di depannya. 'Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. Dua hari setelah peristiwa itu, rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah.

Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga 'Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdo'a agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya. Hingga sesaat, Allah mengijinkan 'Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb.. sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga 'Aini.

"Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah..."

Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya?
Dalam kedaaan demikian, akhirnya dua keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan.

Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga 'Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya.

Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu, orangtua dari dua pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat... pernikahan yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan. Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan.

Tepat setelah ijab kabul terucap... sang ikhwan pun mencium kening 'Aini serta membacakan do'a di atas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala A'ini. Lirih, kami pun masih mendengar 'Aini berucap, "Tolong ikhlaskan saya....."

Hanya lima menit. Ya.. hanya lima menit setelah ijab kabul itu. Tangisan pun memecah ruangan yang tadinya senyap menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah.

Dia telah menjemput seorang bidadari...

Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya...

Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi....

Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya.. .

"Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan..."

Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya...

Ya Rabb.. Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu.., maka jadikanlah kami senantiasa dapat memngambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan...

Selamat jalan adikku sayang ... engkau memang bidadari surga yang Allah tidak berkenan seorang ikhwan pun di dunia ini yang bisa mendampingi kehidupanmu kecuali para ikhwan shalih yang berkhidmat di jalan da'wah dengan ikhlas, tawadhu dan siap berjihad di jalanNya dan kelak menutup mata sebagai seorang syuhada...."
Selamat jalan 'Aini.. semoga Allah memberimu tempat terindah di surgaNya....

subhanallah,, mbak aini, nampak bidadari surga pun akan cemburu padamu,,,

Tuesday, December 29, 2009

/(><)\

sudah hampir habis bulan desember, dan ku pun belum posting apapun,,, knapa diri ini,, haduh,, haduh,, betapa tak produktifnya bulan ini,, huhuhuhuhuhu ga suka,, ga suka,, ga suka,, ><
m0ga cepet berakhirlah kebuntuan ini,,,
hayoh semangat, come back to me,, HAMASAH!!!!

Saturday, November 14, 2009

ketika cicak bersaksi

ini dia,, sinetron yang ratingnya paling tinggi di tivi sekarang,,, hampir semua stasiun menayangkan,,, para pemirsa menanti perkembangannya,,, siapakan yang kan menjadi pemenang di akhir episode? cicakkah atau buaya kah?




terus ikuti perkembangannya,, jangan lewatkan,,,!

Tuesday, November 3, 2009

menanti sang revolusioner,,,


Mujahidku, apa kabar?
semoga saat ini engkau baik-baik saja..
penatku, penatmu saat ini semoga selalu tetap di jalanNya..
semoga mendung ini kau nikmati juga..
supaya kau merasa sejuk setelah seharian bercampur debu..


mujahidku..
aku rindu dalam rindu-rindu tentang takdir kita..
semoga saat ini Penghulu kita menjaga mu..
Melindungimu di jalanan yang terik atau di lautan yang berdebur..
atau,,bahkan di musim yang berbeda??
aku tak pernah tahu...
Namun, tahukah kau??
Aku selalu yakin akan skenarioNya...


mujahidku...
semoga saat ini Dia menjaga hatimu, mata, pendengaran, jiwamu, dan semuamu .. untukku..!!
pun juga aku, semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatan ku, jiwaku... jasadku, semuaku... untukmu..!! KarenaNya semata..


Mujahidku...tahukah kamu??
saat ini aku berdoa untuk keselamatanmu..
semoga saat ini engkau masih teguh di jalan yang Ia bentangkan untukmu..


mujahidku..
saat penat-penat pikir dan jasad begitu menggila..
saat kumparan-kumparan dakwah ini mengajak kita berputar bersamanya..
sungguh,, aku hanya berharap Dia ridha atas apa yang aku dan engkau lakukan (meskipun engkau entah dimana)..


mujahidku, entah kau di mana??
aku tak hendak melukis jasadmu..
aku tak hendak mereka-reka, menebak-nebak tentangmu!!
sebab mujahidku,,tahukah kau??
aku mencintai mu sebelum mata ini memandang, sebelum telinga ini mendengar..
sebelum hal-hal fisik merusak semua ketulusanku atas siapapun engkau!!
dan aku ingin menjaganya agar tetap begitu : SEDERHANA


Ah,,mujahidku...
semoga kaulantunkan doa yang sama pada Pemilik kita...
sebab takdirmu dan takdirku ada digenggamanNya..
Dan kita?? tak pernah tahu..


mujahidku...
dalam sujud-sujud panjang ku, aku merayuNya..
menyelipkan do'a semoga aku pantas untuk mendampingimu..
Entah,,siapa kau....
dimana saat ini adamu,,
namun...
ada hormat, ada rindu, kepercayaan , yang memberiku selaksa energi khusus...


Mujahidku,,
sungguh aku hanya ingin menjaga diriku, jiwaku...
menjaganya, mempersiapkannya, menempanya...
agar jika suatu saat Dia berkehendak, dan membuat skenario tentang kita..
aku telah siap mendampingimu..
dan kita akan tapaki jalan dakwah yang kita pilih dan kita cintai..
hingga hanya Allah muara akhir semua cita...


Untuk seorang yang dijanjikan Allah, di saat yang hanya Allah mengetahuinya...

copied from 'diary pengantin-Izzatul Jannah'